DAFTAR ISI
Kata
Pengantar..................................................................................................... i
Daftar
Isi................................................................................................................ ii
BAB
I
PENDAHULUAN................................................................................................ 1
A. Latar
Belakang............................................................................................ 1
B. Rumusan
Masalah....................................................................................... 1
C. Tujuan
........................................................................................................ 1
BAB II
PEMBAHASAN................................................................................................... 2
A. Penentuan
Lokasi Usaha............................................................................. 2
B. Luas
Produksi............................................................................................. 2
C. Sifat
dan Proses Produksi........................................................................... 3
D. Standarisasi
dan Normalisasi...................................................................... 3
BAB III
PENUTUPAN....................................................................................................... 4
Kesimpulan............................................................................................................. 4
Saran....................................................................................................................... 4
Daftar Pustaka...................................................................................................... 5
Lokasi Dan Pengelolaan Produksi
A. Penentuan Lokasi Usaha
Prioritas
utama aspek teknis adalah menganalisis masalah penentuan lokasi. Pemilihan
lokasi sangat penting mengingat kesalahan dalam analisis akan meningkatnya
biaya yang harus dikeluarkan. Misalnya, suatu produk atau jasa yang seharusnya
di produksi di dekat pusat sumber bahan baku tetapi justru diproduksi di dekat
pasar maka akan mengakibatkan proses produksi terbebani biaya angkutan yang
tinggi. Karena biaya produksi tinggi maka harga jual menjadi kurang kompetitif.
Kondisi itu akan menjadi lebih baik serius jika di pasar sasaran sudah banyak
pesaing yang menawarkan barang atau jasa yang sama dengan produk atau jasa yang
akan dihasilkan.
Pemilihan
lokasi bergantung pada jenis usaha atau investasi yang dijalankan. Paling tidak
ada empat lokasi yang harus dipertimbangkan sesuai kebutuhan perusahaan, yaitu (Kasmir & Jakfar, 2009): lokasi untuk kantor
pusat, lokasi untuk pabrik, lokasi untuk gudang, dan lokasi kantor cabang.
Letak
pasar menjadi pertimbangan utama jika produk atau jasa yang akan dihasilkan
dari pendirian usaha baru tersebut termasuk jenis barang yang harus mudah
dijangkau oleh pelanggan atau agar dapat segera melayani pembeli. Jika
dikaitkan dengan pembahasan karakteristik pelanggan dan profil pelanggan maka
untuk produk yang bersifat implus dan produk untuk kebutuhan sehari-hari maka
perlu memperhatikan lokasi dekat dengan pasar.
Pertimbangan
untuk menentukan lokasi kantor pusat umumnya adalah dekat pemerintahan, dekat
dengan lembaga keuangan, dekat dengan pasar, dan tersedia sarana dan prasarana.
Sedangkan pertimbangan untuk lokasi gudang yang umum adalah di kawasan
industri, dekat dengan pasar, dekat dengan bahan baku, tersedia sarana dan
prasarana. Penilaian lokasi yang tepat akan memberikan berbagai keuntungan bagi
perusahaan, baik dari segi financial maupun nonfinansial. Keuntungan yang
diperoleh dengan mendapatkan lokasi yang tepat antara lain (Sidik, 2013).
B.
Luas
Produksi
Luas
produksi adalah jumlah atau volume output yang seharusnya diproduksi oleh suatu
perusahaan dalam suatu periode. Biasanya penentuan luas produksi merupakan
hasil dari penelitian yang sudah dilakukan oleh departemen riset dan
pengembangan produk yang ada dalam organisasi bisnis (Ismail, 2006).
C.
Sifat
dan Proses Produksi
Sifat
produksi perusahaan industri dapat dibedakan dalam empat hal, yaitu: extractive, analitis, sintetis, dan
pengubahan (Manullang, 2013). Produksi yang bersifat exstractive adalah pertambangan,
pertanian, penebangan pohon, dan perburuan binatang. Perusahaan jenis ini
mengambil sesuatu dari alam untuk kemudian diubah bila perlu, seterusnya
melempar hasil produksi tersebut ke pasar. Produksi yang bersifat analitis
adalah produksi yang menggunakan jenis bahan mentah untuk memproduksi dua atau
lebih barang jadi, misalnya penyulingan minyak bumi. Produksi yang bersifat
sintetis adalah kebalikan dari produksi yang bersifat analitis. Jadi pada
produksi semacam ini digunakan beberapa bahan untuk memproduksikan satu macam
barang, misalnya pabrik sepatu, pabrik sabun dan lain-lain. Produksi yang
bersifat pengubahan adalah produksi di mana bahan mentah hanya diubah
bentuknya, seperti pada penggergajian, pengelasan besi, dan lain sebagainya.
D.
Standarisasi
dan Normalisasi
Untuk
memperbesar prestasi kerja dan menurunkan harga pokok, perusahaan cenderung
menerapkan standarisasi. Dengan standarisasi berarti mengurangi variasi-variasi
hasil produksi sehinggga barang yang diproduksi menjadi satu jenis, satu
bentuk, satu kualitas, dan satu warna. Usaha kea rah ini didorong motif agar
tidak terjadi pengangguran karena kekurangan bahan mentah atau bahan pembantu.
Pada perusahaan yang memproduksi barang sejenis tetapi berbeda bentuk, kualitas
dan warna, dibutuhkan bahan pembantu yang beraneka warna dan mesin yang
berbeda.
Keburukan
standarisasi adalah bahwa keinginan konsumen kurang diperhatikan. Namun dengan
standarisasi maka harga pokok lebih murah sehingga produksi semakin banyak
terjual. Penerapan standarisasi oleh satu perusahaan sering diikuti dengan
pemberian spesialisasi kepada pekerja, selanjutnya standarisasi meringankan
pimpinan dalam pengawasan mutu produksi. Kebaikan standarisasi, baik bagi
konsumen maupun produsen, pekerja kurang menyukainya. Ada tiga hal yang
menimbulkan penolakan pihak kerja, yaitu (Sofyan, 2004):
1. Standarisasi
mengurangi keahlian yang diperlukan dari pekerja, yang mana hal itu berarti
menurunkan martabat mereka.
2. Standarisasi
mematikan inisiatif pekerja karena mereka dispesialisasikan untuk mengerjakan
pekerjaan rutin.
3. Standarisasi
produksi selalu diikuti standarisasi cara, hal yang membosankan pekerja, sebab
tidak ada lagi variasi di dalam melakukan pekerjaan mereka.
Ketiga
hal di atas ada benarnya. Sebaliknya standarisasi memungkinkan mobilitas
pekerja. Bagi buruh tertentu, pekerjaan rutin lebih baik daripada kerjaan yang
berubah-ubah.
Normalisasi
adalah perluasan dari standarisasi. Kalau standarisasi dilaksanakan oleh sebuah
perusahaan maka normalisasi dilaksanakan oleh sejumlah perusahaan. Normalisasi
oleh sejumlah perusahaan berarti normalisasi pada suatu cabang perusahaan.
Penerapan normalisasi sering terjadi. Beberapa perusahaan mengadakan musyawarah
mengenai kesamaan barang produksi yang akan mereka hasilkan. Normalisasi dapat
pula terjadi karena perusahaan mengadakan standarisasi yang kemudian dicontoh
perusahaan lain.
DAFTAR
PUSTAKA
Ismail, S. (2006). Pengantar Bisnis: Pengenalan
Praktis dan Studi Kasus. Jakarta: Kencana Media Group.
Kasmir, & Jakfar.
(2009). Studi Kelayakan Bisnis. Jakarta: Prenada Media.
Manullang. (2013). Pengantar
Bisnis. Jakarta: Penerbit Indeks.
Sidik, I. G. (2013). Bisnis
Sukses: Menyusun Rencana Bisnis Lengkap Terpadu. Jakarta: Gramedia Pustaka
Media.
Sofyan, I. (2004). Studi
Kelayakan Bisnis. Yogyakarta: Graha Ilmu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar