Selasa, 02 Agustus 2016

body note



DAFTAR ISI
Kata Pengantar.....................................................................................................          i
Daftar Isi................................................................................................................          ii
BAB I
PENDAHULUAN................................................................................................          1
A.    Latar Belakang............................................................................................          1
B.     Rumusan Masalah.......................................................................................          1
C.     Tujuan ........................................................................................................          1
BAB II
PEMBAHASAN...................................................................................................          2
A.    Penentuan Lokasi Usaha.............................................................................          2
B.     Luas Produksi.............................................................................................          2
C.     Sifat dan Proses Produksi...........................................................................          3
D.    Standarisasi dan Normalisasi......................................................................          3   
BAB III
PENUTUPAN.......................................................................................................          4
Kesimpulan.............................................................................................................          4
Saran.......................................................................................................................          4
Daftar Pustaka......................................................................................................          5















Lokasi Dan Pengelolaan Produksi
A.    Penentuan Lokasi Usaha
Prioritas utama aspek teknis adalah menganalisis masalah penentuan lokasi. Pemilihan lokasi sangat penting mengingat kesalahan dalam analisis akan meningkatnya biaya yang harus dikeluarkan. Misalnya, suatu produk atau jasa yang seharusnya di produksi di dekat pusat sumber bahan baku tetapi justru diproduksi di dekat pasar maka akan mengakibatkan proses produksi terbebani biaya angkutan yang tinggi. Karena biaya produksi tinggi maka harga jual menjadi kurang kompetitif. Kondisi itu akan menjadi lebih baik serius jika di pasar sasaran sudah banyak pesaing yang menawarkan barang atau jasa yang sama dengan produk atau jasa yang akan dihasilkan.
Pemilihan lokasi bergantung pada jenis usaha atau investasi yang dijalankan. Paling tidak ada empat lokasi yang harus dipertimbangkan sesuai kebutuhan perusahaan, yaitu (Kasmir & Jakfar, 2009): lokasi untuk kantor pusat, lokasi untuk pabrik, lokasi untuk gudang, dan lokasi kantor cabang.
Letak pasar menjadi pertimbangan utama jika produk atau jasa yang akan dihasilkan dari pendirian usaha baru tersebut termasuk jenis barang yang harus mudah dijangkau oleh pelanggan atau agar dapat segera melayani pembeli. Jika dikaitkan dengan pembahasan karakteristik pelanggan dan profil pelanggan maka untuk produk yang bersifat implus dan produk untuk kebutuhan sehari-hari maka perlu memperhatikan lokasi dekat dengan pasar.
Pertimbangan untuk menentukan lokasi kantor pusat umumnya adalah dekat pemerintahan, dekat dengan lembaga keuangan, dekat dengan pasar, dan tersedia sarana dan prasarana. Sedangkan pertimbangan untuk lokasi gudang yang umum adalah di kawasan industri, dekat dengan pasar, dekat dengan bahan baku, tersedia sarana dan prasarana. Penilaian lokasi yang tepat akan memberikan berbagai keuntungan bagi perusahaan, baik dari segi financial maupun nonfinansial. Keuntungan yang diperoleh dengan mendapatkan lokasi yang tepat antara lain (Sidik, 2013).

B.     Luas Produksi
Luas produksi adalah jumlah atau volume output yang seharusnya diproduksi oleh suatu perusahaan dalam suatu periode. Biasanya penentuan luas produksi merupakan hasil dari penelitian yang sudah dilakukan oleh departemen riset dan pengembangan produk yang ada dalam organisasi bisnis (Ismail, 2006).

C.    Sifat dan Proses Produksi
Sifat produksi perusahaan industri dapat dibedakan dalam empat hal, yaitu: extractive, analitis, sintetis, dan pengubahan (Manullang, 2013). Produksi yang bersifat exstractive adalah pertambangan, pertanian, penebangan pohon, dan perburuan binatang. Perusahaan jenis ini mengambil sesuatu dari alam untuk kemudian diubah bila perlu, seterusnya melempar hasil produksi tersebut ke pasar. Produksi yang bersifat analitis adalah produksi yang menggunakan jenis bahan mentah untuk memproduksi dua atau lebih barang jadi, misalnya penyulingan minyak bumi. Produksi yang bersifat sintetis adalah kebalikan dari produksi yang bersifat analitis. Jadi pada produksi semacam ini digunakan beberapa bahan untuk memproduksikan satu macam barang, misalnya pabrik sepatu, pabrik sabun dan lain-lain. Produksi yang bersifat pengubahan adalah produksi di mana bahan mentah hanya diubah bentuknya, seperti pada penggergajian, pengelasan besi, dan lain sebagainya.

D.    Standarisasi dan Normalisasi
Untuk memperbesar prestasi kerja dan menurunkan harga pokok, perusahaan cenderung menerapkan standarisasi. Dengan standarisasi berarti mengurangi variasi-variasi hasil produksi sehinggga barang yang diproduksi menjadi satu jenis, satu bentuk, satu kualitas, dan satu warna. Usaha kea rah ini didorong motif agar tidak terjadi pengangguran karena kekurangan bahan mentah atau bahan pembantu. Pada perusahaan yang memproduksi barang sejenis tetapi berbeda bentuk, kualitas dan warna, dibutuhkan bahan pembantu yang beraneka warna dan mesin yang berbeda.
Keburukan standarisasi adalah bahwa keinginan konsumen kurang diperhatikan. Namun dengan standarisasi maka harga pokok lebih murah sehingga produksi semakin banyak terjual. Penerapan standarisasi oleh satu perusahaan sering diikuti dengan pemberian spesialisasi kepada pekerja, selanjutnya standarisasi meringankan pimpinan dalam pengawasan mutu produksi. Kebaikan standarisasi, baik bagi konsumen maupun produsen, pekerja kurang menyukainya. Ada tiga hal yang menimbulkan penolakan pihak kerja, yaitu (Sofyan, 2004):
1.      Standarisasi mengurangi keahlian yang diperlukan dari pekerja, yang mana hal itu berarti menurunkan martabat mereka.
2.      Standarisasi mematikan inisiatif pekerja karena mereka dispesialisasikan untuk mengerjakan pekerjaan rutin.
3.      Standarisasi produksi selalu diikuti standarisasi cara, hal yang membosankan pekerja, sebab tidak ada lagi variasi di dalam melakukan pekerjaan mereka.
Ketiga hal di atas ada benarnya. Sebaliknya standarisasi memungkinkan mobilitas pekerja. Bagi buruh tertentu, pekerjaan rutin lebih baik daripada kerjaan yang berubah-ubah.
Normalisasi adalah perluasan dari standarisasi. Kalau standarisasi dilaksanakan oleh sebuah perusahaan maka normalisasi dilaksanakan oleh sejumlah perusahaan. Normalisasi oleh sejumlah perusahaan berarti normalisasi pada suatu cabang perusahaan. Penerapan normalisasi sering terjadi. Beberapa perusahaan mengadakan musyawarah mengenai kesamaan barang produksi yang akan mereka hasilkan. Normalisasi dapat pula terjadi karena perusahaan mengadakan standarisasi yang kemudian dicontoh perusahaan lain.


























DAFTAR PUSTAKA
Ismail, S. (2006). Pengantar Bisnis: Pengenalan Praktis dan Studi Kasus. Jakarta: Kencana Media Group.
Kasmir, & Jakfar. (2009). Studi Kelayakan Bisnis. Jakarta: Prenada Media.
Manullang. (2013). Pengantar Bisnis. Jakarta: Penerbit Indeks.
Sidik, I. G. (2013). Bisnis Sukses: Menyusun Rencana Bisnis Lengkap Terpadu. Jakarta: Gramedia Pustaka Media.
Sofyan, I. (2004). Studi Kelayakan Bisnis. Yogyakarta: Graha Ilmu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar